PTBA Office Building

Bukit Asam Dapat Komitmen Pinjaman dari China

07 November 2011

Jakarta (IFT) - PT Bukit Asam Tbk (PTBA), badan usaha milik negara di bidang pertambangan batu bara, segera mendapatkan komitmen pinjaman dari empat bank China untuk proyek jaringan kereta api yang di bangun PT Bukit Asam Transpacific Railway. Perseroan akan menandatangani fasilitas tersebut pada bulan ini, kata eksekutif perseroan.

Sukrisno, Direktur Utama Bukit Asam, mengatakan proyek ini memiliki nilai investasi sebesar US$ 1,8 miliar. Dia belum mau menyebutkan besaran komitmen dari empat bank tersebut, namun yang jelas pendanaan itu di perlukan untuk segera memulai pembangunan.
 
"Saat ini yang penting jalan dulu, proyek ini sudah harus ground breaking karena tambang yang berhubung sebelum dua tahun sudah harus di garap, " ujarnya, Selasa.
 
Dia menyebutkan, meski kondisi saat ini secara global sedang tidak bagus, proyek pembangunan jaringan kereta api pengangkut batu bara itu harus jalan. " Ini proyek cukup prospektif, " tuturnya.
 
Bukit Asam berencana meningkatkan kepemilikannya di Bukit Asam Transpacific Railway menjadi 30% dari saat ini 10%. Perseroan akan membeli 20% saham dari transpacific Railway Infrastructure, perusahaan yang di kendalikan oleh Group Rajawali.
 
"Perseroan akan menggunakan kas untuk akuisisi tersebut. Untuk transaksi ini kami telah menunjuk Pricewaterhouse Coopers sebagai penasihat keuangan, " kata Sukrisno.
 
Saat ini Transpic Railway menguasai 80% saham Bukit Asam Transpacific. Sisa 10% di miliki China Railway Group Ltd, badan usaha milik pemerintah China. Bukit Asam Transpacific akan membangun rel kereta api untuk angkutan batubara sepenjang 307 kilometer. Rel kereta itu akan melintasi tambang Bangko Tengah di Tanjung Enim Sumatra Selatan hingga ke Tarahan, Lampung.
 
Proyek Transpacific Railway di targetkan beroprasi secara komersial pada 2014 dengan kapasitas angkut 25 juta ton. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas angkut Bukit Asam hingga menjadi 47 juta ton. Saat ini perseroan masih mengandalkan jalur kereta api yang ada sedang di tingkatkan kapasitasnya menjadi 22,7 juta ton pertahun pada 2014.
 
Tahun ini Bukit Asam akan menargetkan volume penjualan naik 31% menjadi 16,9 juta ton. Kenaikan volume penjualan dengan produksi yang di targetkan meningkat 34,3% menjadi 17, 6 juta ton dari tahun lalu 13, 1 juta ton.
 
Menurut Sukrisno, Kapasitas produksi perseroan sebenarnya sudah mencapai 25 juta ton, tapi baru 60%- 70% yang terangkut karena keterbatasan infrastruktur transportasi.
 
Bukit Asam belum lama ini juga mendapatkan pinjaman US$ 219,78 juta dari PT BNI Tbk (BBNI) untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tamabng Banjarsari, di Lahat, Sumatra Selatan. Menurut Departemen Riset IFT, pinjaman baru ini tidak akan membebani dan menggangu likuiditas perseroan.
 
Mengacu neraca di semester I 2011, fasilitas kredit dari BNI membuat rasio terhadap ekuitas ( dept to equity ratio/ DER ) Bukit Asam naik 0.83 kali dari 0,56 kali (kurs Rp 8.700 per dolar Amerika Serikat). Begitu juga dengan debt ratio ( perbandingan utang dengan total aset ) yang naik menjadi 15,2% dari 0,24%. Meski naik, angka tersebut mencerminkan rasio utang ( leverage ) perseroan masih rendah. Dengan begitu, perseroan masih bisa memanfaatkan pendanaan eksternal untuk memutup kebutuhan proyek lainnya, teramasuk proyek Transpacific Railway.
 
Oleh : Agung Budiono dan Vicky Prandjaya