ID EN

Harga Batubara Bisa Menuju US$ 115 07 November 2011

Bukan tak mungkin batubara mendekati harga US$ 100 perton pada akhir tahun ini.

info memo image

Jakarta - Harga batubara menyusut selama stu pekan terakhir. Nilai kontrak pengiriman batubara untuk Desember 2011 di bursa Newcastle, Australia, Senin (3/ 10), adalah US$ 121,50 per ton. Itu rekor harga terendahnya dalam sebulan terakhir.

Harga komoditas energi ini turut terpengaruh laju perekonomian global yang melambat. " Ada tekanan berkelanjutan terhadap harga komoditas karena kekhawatiran melemahnya prospek pertumbuhan global. Secara keseluruhan komoditas memasuki masa bearish, " ujar Michael Mc Charty, Analis CMC Market Asia Pacific Pty Ltd kepada Blommberg, kemarin.
 
Penurunan harga batubara mengekor pelemahan harga minyak mentah yang terjadi di pasar international. Harga mentah di New York kemarin melemah 1,52% menjadi US$ 76,43 per barel.
 
Analis Asia Kapitalindo Futures, Suluh Adil Wicaksono, mengungkapkan pelaku industri kini memilih menggunakan minyak mentah daripada batubara. Ini karena harga minyak cendrung melemah. " Tidak ada alasan orang membeli batubara jika harga minyak masih murah, " kata suluh kemarin.
 
Dia menjelaskan batubara memiliki kelemahan dalam hal sifat pembakarannya, penggunaan minyak mentah jauh lebih efisien ketimbang batubara. Maka itu, penggunaan batuabara dapat di gantikan minyak mentah atau gas alam jika harga komoditas lainnya itu lebih murah.
 
Selama harga minyak di bawah US$ 80 per barel, maka harga batubara masih akan tertekan. " Bukan tidak mungkin batubara mendekati harga US$ 100 per ton di akhir tahun ini, apalagi jika Amerika Serikat dan Eropa resesi, " ujar Suluh. Dia memprediksikan pada akhir oktober nanti batu bara menyentuh titik support US$ 115 perton.
 
Tokyo Electric Power Co, perusahaan pembangkit listrik di Jepang, Pada Senin (26/9) pekan lalu, menyatakan akan lebih sedikit menggunakan batubara untuk meningkatkan efisiensi. Harga minyak dan gas alam sebagai komoditas subsitusi batubara sudah cukup murah sebagai bahan bakar.
 
Kabar lain datang dari China. Negara yang mengandalkan batu bara sebagai tenaga listrik ini tengah mengalami kemerosotan industri pertambangan. Harga Saham Yanzhou Coal Mining CO, produsen terbesar keempat batubara di China, kemarin tealah merosot 46% sejak akhir mei lalu.
 
Analist Harvest International Futures, Ibrahim memperkirakan harga batubara bisa menyentuh US$ 119 per ton. " Tapi di akhir kuartal empat ini kebutuhan batubara akan naik lagi, " imbuh dia.
 
Oleh : Revi Yohana Simanjuntak